Easing of restrictions

Setelah lebih dari lima minggu diberlakukan, akhirnya mulai kemarin, Senin 27 April 2020, pemerintah negara bagian Western Australia mulai melonggarkan aturan pembatasan terkait wabah COVID-19. Langkah ini diambil terutama karena angka kasus terkonfirmasi berhasil turun secara dramatis. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, WA sudah berhasil mencapai zero new cases.

Aturan yang dilonggarkan antara lain adalah jumlah maksimal orang yang boleh berkumpul, dari sebelumnya hanya dua orang menjadi sepuluh orang. Masyarakat juga sudah diperbolehkan melakukan kegiatan rekreasional terbatas seperti piknik, memancing, hiking atau camping selama dilakukan dengan menerapkan social distancing. Pemerintah juga mengingatkan semua orang untuk tetap menjaga jarak 1.5 meter antar orang.

Pelonggaran pembatasan ini akan dipantau dan ditinjau ulang setelah tiga minggu, sebelum pemerintah Western Australia memutuskan untuk memberikan kelonggaran yang lebih jauh.

Mark McGowan, Premier Western Australia, menekankan bahwa apabila aturan ini tidak diindahkan dan apabila jumlah kasus baru meningkat lagi, maka pengetatan pembatasan akan diberlakukan kembali.

Tentu ini adalah berita baik bagi seluruh masyarakat, khususnya di Western Australia. Mudah-mudahan menjadi awal perjalanan menuju ke kehidupan yang normal seperti dulu lagi, di mana orang kembali bekerja, bisnis kembali buka, anak-anak kembali ke sekolah, kegiatan sosial kembali diadakan.

Belajar dari rumah menggunakan teknologi

Sudah dua minggu anak-anak terpaksa belajar dari rumah karena perkara COVID-19 ini. Sekolah-sekolah di Perth sebenarnya tetap beroperasi seperti biasa namun mereka hanya menerima anak-anak yang orang tuanya tidak bisa stay di rumah karena harus bekerja atau karena urusan lain. Mulai minggu depan, sekolah akan libur hingga dua minggu ke depan. Kemungkinan besar anak-anak akan tetap belajar dari rumah hingga waktu yang belum ditentukan.

Selama di rumah, istri saya sudah mengarahkan supaya Luna dan Bima tetap memiliki jadwal kegiatan layaknya saat mereka sekolah di saat yang normal. Jadwal kegiatan mereka memang tak terlalu rigid dan detail, tapi setidaknya meraka punya panduan harus melakukan apa saja setiap harinya.

Saya bersyukur sekarang teknologi sudah maju sehingga beberapa jenis kegiatan dilakukan secara online atau virtual. Berdasarkan observasi saya, ada beberapa kegiatan belajar anak-anak yang mengandalkan teknologi:

  1. Online homework. Ada beberapa website di mana masing-masing anak memiliki sebuah akun dan bisa mengakses soal-soal yang diberikan oleh guru mereka.
  2. Virtual class. Kelas yang dipandu oleh seorang guru secara real time. Setiap murid bisa join kelas tersebut melalui aplikasi teleconferencing semacam Zoom atau Webex.
  3. Online class. Mirip dengan virtual class, bedanya kelas ini tidak berlangsung real time, sehingga anak-anak bisa mengaksesnya kapan saja. Contohnya, Bima mengambil kelas online untuk kursus trombon-nya, atau Luna yang mengambil kelas programming Python.
  4. Email. Banyak tugas-tugas tambahan yang dikirim melalui email. Tugas tersebut kemudian bisa di-print di rumah untuk dikerjakan.
  5. Game. Ada juga tugas yang diberikan dalam bentuk online game. Yang seperti ini kelihatannya juga disukai anak-anak karena selain mendidik, game tentunya punya unsur hiburan.

Saya sering membayangkan kalau misalnya wabah COVID-19 ini terjadi saat dulu saya masih kecil ketika belum ada internet dan teknologi tak semaju sekarang. Mungkin kegiatan belajar mengajar akan lebih terhambat (?).

Setelah dua minggu bekerja dari rumah

Akibat makin mewabahnya virus Corona penyebab penyakit COVID-19, pihak kantor (mengikuti anjuran dari pemerintah dan kantor pusat) akhirnya menganjurkan dengan sangat agar para pegawainya bekerja dari rumah. Kelihatannya pengaturan bekerja dari rumah seperti ini akan berlangsung cukup lama, perkiraan saya sekitar 3 bulan lagi, sebelum akhirnya semua kembali normal seperti sedia kala.

Saya sendiri sebenarnya cukup menikmati sistem bekerja dari rumah atau working from home (WFH) seperti ini. Mungkin karena saya tipe orang yang tidak terlalu suka terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain. Dari segi pekerjaan, hampir semuanya bisa saya lakukan layaknya bekerja dari kantor. Semua itu karena teknologi.

Teknologi memungkinkan banyak hal bisa terjadi. Dengan internet, semua komunikasi dengan rekan kerja bisa saya lakukan seamlessly, bebas hambatan. Mulai dari email, chatting, teleconference, virtual meeting, dan lain sebagainya. Semuanya bisa saya lakukan dari atas meja makan saya.

Iya, meja kerja saya sementara ini adalah meja makan karena saya menurut saya bekerja dari situ lebih nyaman ketimbang bekerja di meja komputer. Mungkin nanti saya akan sedikit melakukan penyesuaian pada meja komputer tersebut sehingga lebih nyaman dan ergonomis.

Setelah dua minggu saya melakukan WFH, berikut ada beberapa catatan yang ingin saya tulis di sini:

  • Walaupun WFH, saya tetap mengikuti jadwal normal saya di kantor. Saya tetap bangun pagi seperti biasa, lalu sarapan dan mandi sebelum mulai bekerja.
  • Saya biasanya menuliskan beberapa hal yang ingin saya kerjakan setiap harinya. Tidak banyak, sekitar 2 – 3 item saja. Ini membantu saya untuk fokus dalam bekerja.
  • Setiap 30 – 45 menit sekali, saya biasanya mengambil break kecil, supaya badan dan kepala tidak lelah. Apalagi saya tidak bekerja di kondisi lingkungan yang cukup ergonomis.
  • Distraksi dari anak-anak dan lingkungan rumah secara keseluruhan memang kadang cukup mengganggu. Biasanya saya pindah sejenak ke dalam kamar atau tempat yang lebih sepi, apalagi kalau saya perlu melakukan video call atau virtual meeting.
  • Saya berusaha meluangkan waktu untuk berolahraga, walaupun sampai minggu kedua ini saya belum menemukan kembali mood untuk berolahraga seperti sebelum ada wabah ini. Dalam kondisi seperti ini, saya mengikuti online session yang diadakan oleh Bolt.

Belajar menggunakan Affinity Designer

Dulu saya sempat berlangganan Adobe Illustrator selama beberapa bulan. Namun, karena saya tak menggunakan program vector tersebut secara intensif, saya merasa tidak worth it untuk tetap berlangganan. Akhirnya, saya pun berhenti menjadi pelanggan Adobe Illustrator.

Kemudian, beberapa bulan belakangan ini saya mulai melirik ke sebuah aplikasi sejenis Illustrator bernama Affinity Designer. Aplikasi ini sebenarnya tak baru-baru amat, bahkan terbilang cukup populer di kalangan desainer grafis atau artis. Selain karena fiturnya yang hampir menyamai Adobe Illustrator, salah satu yang membuat banyak orang berpaling ke Affinity Designer adalah karena harganya.

Harga aplikasi ini hanya sedikit lebih tinggi daripada harga berlangganan Adobe Illustrator per bulannya. Selain itu, Affinity Designer juga tersedia dalam beberapa platform termasuk untuk Mac dan iPad OS, sehingga memudahkan pengguna untuk bekerja lintas perangkat.

Saya sendiri sering berpindah-pindah dari iPad ke MacBook Pro, kemudian kembali ke iPad lagi. Tergantung mood dan keadaan.

Seperti halnya saat mencoba aplikasi baru, saya tentu perlu mempelajarinya terlebih dahulu. Untuk itu, saya banyak belajar dari Youtube dan mencoba meniru logo-logo dari para desainer yang saya kagumi di luar sana melalui Pinterest maupun Dribbble. Dengan cara ini, saya bisa lebih mudah memahami fitur dan fungsi yang tersedia di Affinity Designer.

Beberapa contoh hasil saya meniru logo-logo yang sudah ada menggunakan Affinity Designer versi iPad maupun Mac.

Nah, kebetulan saya juga mendapat orderan untuk membuat logo Festival Indonesia Perth 2020. Sekalian saya gunakan kesempatan ini untuk mencoba membuat usulan logo tersebut dengan Affinity Designer. Berikut usulan logonya:

Menurut saya, Affinity Designer sangat layak dijadikan alternatif untuk Adobe Illustrator, terutama bagi para student atau pengguna amatir seperti saya yang membutuhkan aplikasi murah tapi powerful.

Bagi pengguna Mac atau iPad OS, ada aplikasi vector lain yang juga menarik untuk dicoba, namanya Vectornator. Saya sempat mencobanya sekilas, kelihatannya cukup bagus juga.

Crusader Kings 2

Akhir pekan kemarin, waktu saya sebagian habis untuk bermain sebuah game bergenre grand strategy yang berjudul Crusader Kings 2, berikutnya disingkat menjadi CK2. Game ini pertama kali dirilis tahun 2012 alias sudah berusia 8 tahun. Bahkan kabarnya sekuelnya akan keluar sebentar lagi, yaitu Crusader Kings 3.

Lalu, mengapa saya baru sekarang mulai mencoba bermain game ini?

Alasan utamanya adalah karena CK2 ini sangat susah sekali untuk dipelajari. Paling tidak untuk saya pribadi ya. Beberapa tahun yang lalu saya pernah mencoba memainkan, namun baru beberapa menit, saya menyerah karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sejak itu, saya tak pernah lagi menyentuh game ini.

Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba ada sebuah video di YouTube isinya adalah tutorial cara memainkan CK2. Saya iseng saja menontonnya, tapi kemudian menjadi tertarik untuk mencoba memainkannya lagi.

Kali ini saya mencoba lebih tekun mengikuti beberapa tutorial tentang CK2, terutama dari YouTube. Setelah itu saya memberanikan diri untuk memainkannya lagi melalui Steam.

Awalnya tetap terasa berat sih. Tapi lama kelamaan, akhirnya saya mulai mengerti mekanis game ini dan menikmati permainan, walaupun masih banyak sekali yang belum saya pahami saking kompleksnya.

Selain kompleks, game ini juga agak berbeda dari kebanyakan game bergenre sejenis yang biasanya mengutamakan penguasaan wilayah atau kemenangan dalam perang melawan bangsa atau kelompok lain. CK2 lebih memfokuskan kepada pengelolaan sebuah dinasti, lengkap dengan dinamikanya seperti perkawinan, intrik, plot, perjanjian dengan dinasti-dinasti yang lain, dan lain sebagainya.

Mungkin saya akan terus bermain CK2 ini selama beberapa minggu ke depan hingga sekuelnya, CK3, resmi dirilis. Hehehe.

Airtasker

Beberapa minggu yang lalu, saya mendapatkan sebuah pekerjaan lepas dari seseorang melalui sebuah aplikasi bernama Airtasker. Aplikasi ini mirip dengan AirBNB atau Uber, namun yang menjadi objek bukanlah akomodasi / penginapan ataupun kendaraan, melainkan task – pekerjaan-pekerjaan lepas yang ditawarkan oleh yang membutuhkan dan kemudian diperebutkan oleh orang-orang yang merasa mampu bisa menyelesaikan pekerjaan (task) tersebut. Pekerjaan yang ditawarkan bisa dilakukan secara remote maupun in-person.

Orang yang mem-posting sebuah pekerjaan cukup memberikan deskripsi singkat, waktu pengerjaan yang diharapkan dan tentu saja harga dari tasktersebut. Setelah ter-posting, para pencari task akan menawarkan diri kepada si pemberi task tadi, terkadang bisa dengan harga yang lebih rendah daripada yang ditawarkan. Nantinya si pemberi task bisa memilih dari beberapa “pelamar” tersebut berdasarkan reputasi si pencari task, penawaran harga, dan informasi lainnya.

Saya hampir yakin aplikasi sejenis mungkin sudah ada juga di Indonesia.

Kembali ke task yang berhasil saya “menangkan” beberapa minggu yang lalu, ini adalah task saya yang pertama. Tugasnya sederhana, paling tidak dari judul dan deksripsi yang diberikan: membuat sebuah file Excel yang bisa menghitung moving average dari data harian. Harga task-nya juga hanya $50.

Setelah deal, kami pun melakukan video call melalui aplikasi Zoom. Ternyata saat itu dia sedang berada di Thailand. Mungkin sedang berlibur.

Ketika dia mulai menerangkan tentang apa yang sebenarnya dia butuhkan, saya mulai tersadar ternyata task ini tak sesimpel yang dideskripsikan sebelumnya. Namun, saya lebih fokus untuk memberikan solusi. Pekerjaan itu butuh 2 kali video call dan beberapa korespondesi via email. Pada akhirnya, solusi bisa didapatkan dan dia cukup happy dengan itu.

Pekerjaan selesai, pembayaran diproses dan masing-masing dari kami saling memberikan review.

Walaupun harganya tak sebanding dengan effort yang saya keluarkan, namun saya tak merasa rugi karena selain ini adalah task pertama saya, saya pun belajar hal baru dari sini.

Mudik sejenak ke tanah air

Seminggu yang lalu saya kembali dari Indonesia setelah menghabiskan waktu untuk berlibur di Balikpapan dan Jakarta selama 2 minggu. Anak-anak dan istri saat ini masih berada di tanah air, namun mereka juga akan kembali ke Perth dalam beberapa hari.

Liburan kali ini sebagian besar saya habiskan di Balikpapan. Menyambangi tempat-tempat kuliner adalah kegiatan saya sekeluarga hampir setiap hari. Tak heran kalau berat badan saya naik 3 kilo!

Kami sempat mencoba tol baru Balikpapan – Samarinda yang baru saja diresmikan oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu yang lalu. Jalan tol ini sebenarnya baru 50% selesai, tapi ruas jalan yang yg sudah selesai tersebut sudah bisa dilewati oleh kendaraan.

Kami juga sempat mengunjungi (lagi) hutan bakau (Mangrove) di mana kami menaiki sampan untuk menyusuri sungai yang membelah hutan bakau tersebut.

Berikut beberapa momen yang saya dokumentasikan dalam bentuk foto:

Mengulik Power Apps

Saya termasuk agak terlambat aware tentang Power Apps, sebuah produk dari Microsoft yang memungkinkan penggunanya untuk membuat aplikasi dengan cepat sesuai kebutuhan bisnis. Dan seperti halnya produk Microsoft yang lain, aplikasi yang dibuat dengan menggunakan Power Apps bisa terhubung dengan berbagai layanan dan sumber data.

Tak seperti bahasa pemrograman yang konvensional, mengembangkan sebuah aplikasi dengan Power Apps tak membutuhkan ribuan baris intruksi atau kode. Power Apps lebih banyak menggunakan komponen dan “bahasa pemrograman” yang jauh lebih sederhana dan lebih mudah dimengerti. Istilahnya “low code programming”.

Karena beberapa minggu belakangan ini work load saya di kantor agak berkurang, beberapa hari yang lalu saya mulai mencoba belajar dan membuat sebuah aplikasi untuk pengajuan klaim tunjangan ke payroll.

Selama ini proses tersebut dilakukan secara paper based. Pekerja yang mengajukan klami mesti mengunduh sebuah form, lalu mengisi form tersebut dengan informasi yang dibutuhkan. Setelah itu, form tadi dikirim secara fisik ke supervisor yang bersangkutan untuk dimintakan approval. Dari supervisor, form kertas tadi dikirim lagi ke Manager untuk approval, sebelum akhirnya dikirim ke bagian payroll untuk pemrosesan dan pembayaran.

Dengan Power Apps, saya bisa membuat sebuah aplikasi di mana pekerja cukup mengisi form elektronik di komputer mereka dan menekan tombol submit. Selanjutnya, supervisor akan menerima email notifikasi dengan link untuk membuka form elektronik tadi dan melakukan approval dengan hanya menekan tombol. Begitu seterusnya hingga akhirnya bagian payroll juga akan menerima klaim dalam bentuk elektronik yang kemudian bisa mereka proses seperti biasa.

Untuk proses belajarnya, seperti biasa saya banyak membuka video tutorial di YouTube dan googling banyak artikel terkait. Pengalaman menggunakan Excel juga sangat membantu karena intruksi di Power Apps banyak yang mirip dengan formula pada Excel.

Untuk sumber datanya, kali ini saya menggunakan SharePoint List. Awalnya saya sempat mencoba menggunakan Excel yang saya simpan di SharePoint. Namun, setelah saya baca di beberapa artikel, SharePoint ternyata memiliki beberapa keunggulan dibandingan Excel untuk aplikasi yang akan diakses secara online oleh banyak orang.

Saat ini, saya berencana menggunakan Microsoft Flow Power Automate untuk membantu aplikasi ini mengirimkan email notifikasi ke pengguna. Untuk itu, saya masih perlu belajar lagi. Mudah-mudahan aplikasi buatan saya ini sudah bisa digunakan dalam beberapa minggu ke depan.