Pengalaman pindahan rumah di Perth

Bulan lalu, kami pindah dari apartment yang sudah kami tinggali selama lebih dari tiga tahun terakhir ke sebuah rumah. Alasan yang pertama adalah karena anak-anak sudah tambah besar dan butuh kamar yang terpisah. Waktu tinggal di apartment, Luna dan Bima masih tidur di satu kamar. Kami pikir sudah saatnya mereka punya kamarnya masing-masing. Makanya sekarang kami memilih menyewa sebuah rumah dengan tiga buah kamar tidur.

Alasan yang kedua adalah karena urusan sekolah. Tahun depan, anak saya yang kedua, Bima, akan naik ke year 7 di high school. Dia ingin masuk ke salah satu high school yang salah satu syarat masuknya adalah harus tinggal atau berdomisili di dalam area sekolah tersebut. Istilahnya local intake area. Nah, kami pindah ke sebuah rumah yang berlokasi di dalam area tersebut supaya kami bisa mendaftarkan Bima ke sekolah yang dituju.

Pindahan rumah memang selalu bikin lelah fisik dan mental. Banyak sekali yang harus dipikirkan, termasuk urusan dengan properti yang ditinggalkan. Sederet item yang harus dikerjakan sudah menanti sebelum apartment tersebut bisa kembali diserahterimakan kepada agen properti sebagai perwakilan dari pemilik properti. Intinya semuanya harus dikembalikan dalam keadaan bersih dan seperti saat mulai ditempati. Jika tidak, maka akan ada kompensasi yang harus kami bayar kepada si pemilik properti.

Kami juga diwajibkan menggunakan jasa cleaner profesional dan mencantumkan bukti pembayaran saat menyerahkan kunci properti kembali kepada si agen. Kalau saat final inspection ternyata ada yang kurang bersih, mereka bisa meminta si cleaner untuk membersihkan properti tersebut hingga bersih dan kinclong!

Dulu sebelum masuk ke apartment ini, saya mesti menyediakan sejumlah uang sebesar empat minggu sewa yang akan dipakai sebagai rental bond. Uang ini akan dikembalikan kepada penyewa properti utuh jika tak ada biaya-biaya yang muncul setelah masa sewa habis. Dalam kasus saya, misalnya, setelah apartment dibersihkan dan semua kunci dikembalikan ke agen, ternyata mereka menemukan ada bagian lantai yang tergores akibat terkena kaki sofa. Kerusakan itu kemudian mereka diskusikan dengan si pemilik properti. Hasilnya, si pemilik properti meminta sejumlah kompensasi yang dipotong dari uang rental bond tadi.

Selesai urusan properti yang lama, berikutnya kami harus menyelesaikan masalah kontrak dengan properti yang baru. Prosesnya sebenarnya kurang lebih sama seperti waktu kami memulai sewa dengan apartment yang lama. Bedanya sekarang barang-barang kami lebih banyak sehingga kami perlu mengalokasikan waktu seharian penuh hanya untuk pindahan barang. Kami menyewa jasa perusahaan removalist untuk membantu pemindahan barang-barang kami.

Jasa pemindahan barang tersebut sudah termasuk dengan sebuah truk barang beserta dengan dua orang kru yang bertanggung jawab mulai dari pengangkutan barang-barang ke dalam truk hingga ke dalam properti yang baru. Namun demikian, saya dan istri tetap saja ikut jungkir balik mengangkut beberapa barang supaya prosesnya bisa lebih cepat. Kalau terlalu lama, kami akan dikenai biaya tambahan karena mereka menghitung layanan mereka per jam.

Setelah masuk ke rumah sewaan yang baru, kami masih harus me-review daftar kondisi properti yang sangat detail, kurang lebih ada sekitar 70 halaman yang menjabarkan setiap sudut bagian properti beserta foto-foto pendukung. Kami harus memverifikasi dan memberikan catatan apabila diperlukan. Dokumen ini nantinya akan digunakan saat kontrak di rumah ini habis untuk memastikan bahwa kondisi rumah sama seperti saat kami mulai tinggal di sini.

Kesimpulannya, proses pindahan di sini memang super njelimet. Namun demikian, sistem dan peraturannya sudah jelas, sehingga baik penyewa maupun pemilik properti sebenarnya sama-sama terlindungi. Peran agen properti di sini juga penting karena merekalah yang memastikan semua dokumentasi dan aspek legal terpenuhi.

Camping di Margaret River

Minggu lalu kita camping lagi di kawasan Margaret River. Lokasinya berjarak sekitar tiga jam berkendara ke arah selatan kota Perth. Kami menghabiskan 4 malam berkemah di sebuah caravan and camping park.

Kali ini kami memanfaatkan liburan long weekend memperingati Queen’s Birthday dan bertepatan juga dengan liburan antar term buat anak-anak sekolah.

Back to basic

Saya akui saya termasuk pengguna produk Apple yang cukup setia, minimal dalam satu dekade terakhir. Untuk urusan smartphone, misalnya, saya sudah beberapa kali mencoba merek dan sistem operasi selain Apple. Pada minggu-minggu pertama, mungkin saya masih menikmatinya. Namun, setelah itu biasanya saya mulai kangen menggunakan iPhone lagi. Alhasil, smartphone non-Apple tersebut biasanya saya jual kembali atau saya tawarkan ke istri saya (iya, dia adalah penggemar Android yang sedang saya paksa untuk menggunakan iPhone juga).

Karena sudah cocok dengan produk Apple, saya juga menjadi pengguna hampir semua layanan mereka mulai dari email (me.com), iCloud, hingga Apple Music (kadang saya gilir bergantian dengan Spotify). Untuk urusan penyimpanan data di cloud, saya masih menggunakan Dropbox karena saya sudah menjadi pengguna sejak iCloud belum diluncurkan. Untuk urusan penyimpanan foto dan video, saya mempercayakan ke Google Photos agar bisa sharing dengan istri yang menggunakan Android.

Aplikasi asli (native) bawaan Apple yang masih saya pakai adalah Mail, Safari, Calendar, Contacts, Reminders, dan Notes. Memang banyak sekali aplikasi pihak ketiga yang bisa menggantikan aplikasi-aplikasi tersebut dan saya sudah mencoba beberapa. Misalnya, untuk browser terkadang saya juga menggunakan Chrome. Untuk email, saya pernah mencoba Spark ataupun Outlook. Buat kalender, saya pernah cukup lama menggunakan Fantastical. Sebagai to-do list, saya pernah pakai Things dan Todoist. Saya juga pernah mencoba Bear, GoodNotes dan beberapa aplikasi pencatat lain sebagai alternatif dari Notes.

Tapi, seiring dengan berkembangan kapabilitas MacOS, iOS dan iPadOS beberapa tahun belakangan ini, menurut saya semua kebutuhan saya sudah bisa terpenuhi oleh aplikasi-aplikasi asli Apple tadi. Fitur-fitur menarik yang tadinya ditawarkan oleh aplikasi pihak ketiga, satu persatu mulai “dicaplok” oleh Apple.

Saya pribadi lebih suka menggunakan aplikasi seperlunya, baik itu di iPhone, iPad maupun Mac. Dengan kemampuan aplikasi native Apple yang makin membaik, berarti makin sedikit pula jumlah aplikasi yang saya pasang di device saya.

Istilahnya, back to basic.

Pasti banyak pengguna Apple yang merasakan hal yang sama dengan saya dan saya yakin tak sedikit dari mereka yang beralih kembali ke aplikasi-aplikasi native Apple beberapa tahun belakangan.

Apple pasti akan terus mengembangkan aplikasi-aplikasi mereka dan menambahkan fitur-fitur baru. Di satu sisi, tentu hal ini merupakan tantangan buat para developer yang memiliki aplikasi di mana fitur-fiturnya sudah bisa didapatkan di aplikasi native. Namun, di sisi lain hal ini menguntungkan bagi konsumen atau pengguna karena mereka akan punya pilihan yang lebih banyak.

Pengalaman menjadi dog sitter melalui Mad Paws

Memelihara hewan peliharaan memerlukan tanggung jawab yang besar. Mulai dari urusan makanan, kebersihan hingga kesehatan. Apalagi di sini hewan peliharaan, khususnya anjing, sudah dianggap sebagai part of the family.

Anjing itu perlu diajak jalan setiap hari, minimal sekali sehari selama 30 – 45 menit. Selain itu, jikalau si pemilik mesti meninggalkan anjingnya di rumah lebih dari sehari, biasanya si anjing akan dititipkan ke tempat penitipan anjing atau kepada seorang pet sitter / dog sitter.

Ada beberapa tempat yang memberikan pelayanan dog sitter secara profesional, mulai dari sekedar mengajak jalan si anjing, hingga layanan dog sitting dan dog boarding. Tapi selain itu, ada juga layanan online yang menyediakan jasa serupa di mana dog sitter-nya adalah para warganet yang menawarkan waktu dan energinya dengan imbalan uang. Kurang lebih seperti Airbnb tapi untuk dog sitting.

Salah satu penyedia layanan semacam ini yang cukup populer di Australia adalah Mad Paws. Di Mad Paws, siapa saja bisa apply sebagai dog sitter, dan setelah melengkapi beberapa persyaratan yang ditentukan, profil mereka pun akan aktif dan siap menerima order dari orang-orang yang sedang membutuhkan jasa dog sitting.

Saya sudah menjadi dog sitter di Mad Paws sejak hampir dua tahun yang lalu. Alasan sederhananya sebenarnya hanya karena ini bisa berinteraksi dengan anjing saja, sebab kami belum bisa memelihara seekor anjing di apartment yang kami tinggali sekarang.

Di Mad Paws, saya sudah menerima beberapa pelanggan. Paling banyak adalah jasa dog walking dan beberapa di antaranya adalah recurring customer alias pelanggan tetap yang rutin menitipkan anjing mereka beberapa hari seminggu.

Sebagai seorang dog sitter, kita bebas menentukan tarif. Namun demikian, kita perlu melihat harga pasaran juga. Kalau terlalu mahal, bisa-bisa tak laku juga. Semua proses pembayaran dilakukan melalui Mad Paws, di mana nantinya akan dipotong sekian persen oleh mereka sebelum masuk ke rekening si dog sitter.

Berikut beberapa anjing yang pernah menjadi customer saya di Mad Paws:

Vinnie & Angus

Duo ini adalah customer saya yang pertama. Sang pemilik menitipkan mereka kepada saya untuk diajak jalan setiap pagi atau sore selama dua minggu karena dia baru saja operasi lutut. Biasanya mereka saya bawa ke taman terdekat yang cukup luas. Setelah sampai di taman, leash mereka saya lepas sehingga mereka bisa bebas berlari ke sana kemari.

Sesekali saya bermain lempar bola di mana mereka akan berebutan mendapatkan bola tersebut dan membawanya kembali kepada saya. Vinnie larinya lebih cepat daripada Angus, tapi Angus selalu mau menang sendiri dan sering merebut bola dari mulut Vinnie. 🙂

Obie

Anjing mixed breed ini adalah recurring customer saya yang paling lama. Sang pemilik bekerja full time, sehingga dia meminta saya atau istri saya untuk mengajak jalan Obie antara jam 10 pagi hingga 1 siang. Karena waktunya bentrok dengan jam kerja saya, hampir seluruh sesi dengan Obie dipegang oleh istri saya.

Si Obie adalah anjing yang sangat gentle dan penurut. Walaupun badannya cukup tinggi (mungkin ada keturunan Great Dane), namun sosoknya manis sekali. Kami bahkan tak pernah mendengarnya menggonggong sama sekali.

Sesi dengan Obie mesti berakhir karena mereka pindah rumah.

Archie

Archie the Lab, begitu sebutannya, juga salah satu customer saya yang cukup lama. Pemiliknya adalah sepasang suami istri dan tinggal tak terlalu jauh dari apartment kami. Seperti Labrador Retriever pada umumnya, Archie adalah anjing yang cerdas, kind dan gentle. Dia senang bersosialiasi dengan manusia dan anjing-anjing lain.

Karena kedua pemiliknya bekerja di siang hari, maka Archie juga biasanya selalu diajak jalan oleh istri saya di siang hari. Kalau saya sedang off atau sedang bekerja dari rumah, saya juga sesekali bisa jalan bersama Archie. Rute favorit saya: berjalan menyusuri pinggiran sungai Swan.

Sesi dengan Archie berhenti beberapa bulan yang lalu setelah istri saya mendapatkan pekerjaan full time sehingga tak punya waktu lagi untuk mengajak jalan Archie.

Zedd

Pemilik Zedd, seekor anjing Greyhound, menghubungi saya saat dirinya perlu pergi ke luar kota selama 3 hari. Saya diminta untuk bisa menginap di rumahnya untuk menjaga Zedd selama dia di luar kota. Tugas saya termasuk memberi makan serta mengajaknya jalan pada pagi dan sore hari.

Di balik sosoknya yang tinggi dan atletis, Zedd adalah anjing yang sangat pendiam dan penurut. Sama sekali tak pernah menggonggong dan sangat suka sekali tidur. Tempat favoritnya mudah ditebak: sofa, di mana dia bisa menghabiskan berjam-jam duduk dan tidur di situ.

Saya menduga dulu Zedd mungkin pernah jadi anjing pembalap sebelum akhirnya menua dan pensiun.

Sox

Kalau hanya melihat fisiknya, orang bisa ciut duluan nyalinya. Tapi kalau sudah didekati, Sox sebenarnya adalah anjing yang playful dan pintar. Tenaganya memang kuat, tapi dengan sedikit ketegasan dan konsistensi, Sox cukup mudah diajak jalan. Kalau tidak begitu, bakal butuh energi banyak untuk bisa mengendalikannya selama walking on a leash.

Pemiliknya sedang menjalani serangkaian kemoterapi ketika meminta saya untuk mengajak jalan Sox selama dua minggu. Saya biasanya datang ke tempatnya sekitar pukul 6.30 pagi dan selesai sekitar sejam kemudian.

Camping di Denmark

Liburan easter tahun ini kami nikmati dengan ber-camping di Denmark, sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 5 jam perjalanan ke arah selatan dari kota Perth. Kami berlibur di sana bersama dengan tujuh keluarga lain, sehingga suasana memang cukup guyub dan meriah.

Tempat kami mendirikan tenda sebenarnya adalah sebuah caravan park bernama Denmark Rivermouth Caravan Park. Tak heran kalau selama tiga malam kami di sana, tempat itu dipenuhi oleh puluhan camper trailer ataupun caravan. Rombongan kami semuanya hanya bermodalkan tenda. Namun demikian, kami tetap mendapat fasilitas listrik, air serta akses ke toilet dan dapur bersama. Pokoknya cukup nyaman lah, terutama toiletnya yang wangi dan bersih.

Kami berangkat dari Perth pada Jumat pagi. Hari itu dan hari Senin-nya adalah public holidays dalam rangka easter di Western Australia. Setiap keluarga berangkat sendiri-sendiri alias tidak konvoi, kami hanya janjian untuk berangkat pagi. Jadi, ada yang berangkat jam 8 pagi, tapi ada juga yang santai-santai baru meluncur jam 11. Kami sendiri meninggalkan rumah sekitar pukul 10 pagi, karena saya dan istri baru selesai packing & loading sejam sebelumnya.

Yang jelas seluruh rombongan sudah tiba di lokasi sebelum jam 4 sore. Tenda-tenda juga sudah berdiri sebelum hari gelap. Kami pun bisa menikmati makan malam dengan tenang, walaupun gerimis turun mengiringi malam pertama kami di sana.

Hari selanjutnya kami lewati dengan bermalas-malasan. Tidur, makan, tidur lagi, makan lagi.

Anak-anak yang jumlahnya lumayan banyak (karena masing-masing keluarga punya 2 – 3 anak) terlihat sangat menikmati liburan kali ini. Mereka seperti tak lelah bermain sepanjang hari hingga malam tiba.

Cuaca selama kami di sana hampir selalu mendung. Udara tak terasa panas, tapi juga tidak terlalu dingin. Tak heran hasrat untuk tidur sangatlah kuat. Rebahan sebentar bisa langsung bablas bermimpi.

Sesekali, kalau bosan, kami jalan ke kota Denmark untuk membeli barang atau makanan, ataupun sekedar cuci mata.

Kami sempat berkunjunga ke sebuah animal farm yang berjarak sekitar 30 menit dari lokasi camping.

Overall, camping kali ini menyenangkan. Tempatnya juga highly recommended – aman, nyaman dan terjangkau.